SINERGI – Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III Bersama Penglingsir Puri, Kepala Desa, Bendesa Adat, Pengurus Gebong Pesatakan dan Tokoh Hindu Asal Bedugul Tabanan di Istana Mancawarna Tampaksiring

SENATOR RI TERIMA PURI DAN PRAJURU TERKAIT GEBONG PESATAKAN                                           

Sejumlah tokoh asal Bedugul yang terdiri dari beberapa Desa Adat termasuk Penglingsir Puri, anggota DPRD asal Tabanan, Perbekel, Bendesa Adat dan warga pengempon Pura Ulun Danu Beratan, hadir di Istana Mancawarna Tampaksiring menghadap Shri I Gusti  Ngurah Arya Wedakarna MWS III. Sejumlah hal terkait dengan eksistensi adat dan budaya serta dresta dikawasan Bedugul termasuk masalah Gebong Pesatakan disampaikan kehadapan Senator RI. Harapan agar umat Hindu di Bedugul bersatu disampaikan langsung oleh Shri Arya Wedakarna dengan tujuan agar umat Hindu tidak kalah dengan SDM komunitas pendatang baik secara ekonomi maupun agraria, termasuk bagaimana membangun kembali kewibawaan dresta leluhur. “Saya sampaikan kepada tokoh Hindu di Bedugul agar mulai menata diri dan dalam agama Hindu menata itu harus dimulai dari hulu, dan hulunya adalah Pura. Jika secara sekala para warih dan umat selalu kisruh tentang eksistensi pura, maka secara niskala saya yakin Ida Sesuhunan juga tidak berkenan memberikan margi. Jadi apapun masalah yang ada didesa harus diselesaikan dengan musyawarah mufakat. Ada prinsip Pancasila gotong royong yang harus terus kita laksanakan. Dan saya ingin agar Bedugul tetap menjadi kawasan spiritual berbasis Hindu yang hebat bukan saja untuk Bali tapi juga untuk Indonesia. Apalagi Bedugul ini mulai dikenal sejak Presiden Sukarno kerap berkunjung termasuk cikal bakal Kebun Raya seperti sekarang ini. Saya ingatkan agar bersatu. “ungkap Shri Arya Wedakarna. Setelah mendapatkan berbagai informasi, Senator Arya Wedakarna menyampaikan sejumlah solusi terkait dengan dinamika yang ada di Bedugul diantaranya 1) Semua pihak untuk melaksanakan Keputusan Paruman Agung dengan baik dan konsisten 2) Wedakarna meminta agar Badan Otorita Pura Ulun Danu Beratan dijalankan terus dengan manajemen transparan, termasuk mengutamakan SDM Hindu untuk ikut menjaga kesucian pura. 3) Pembagian hasil tiket objek wisata, agar disampaikan secara berkeadilan, termasuk secara etika ada pembagian lebih besar kepada desa adat induk yang menyangga Pura Ulun Danu 4) Meminta kepada seluruh komponen adat untuk kembali menempatkan Puri sebagai Penasihat dari setiap karya adat, hal ini agar ada pihak pemersatu. Puri adalah lambang sejarah bagi masyarakat Hindu di Bedugul 5) Segera menyusun Purana dan Sejarah Pura – Pura dikawasan Bedugul agar tidak terjadi pembelokan sejarah 6) Meminta agar umat Hindu di Bedugul kembali menguasai tanah dan ekonomi melalui kekayaan LPD serta menjadikan kawasan Bedugul sebagai kawasan berbasis Hindu dalam nilai nilai pembangunannya 7) Memberikan nasihat terkait dengan keberadaan pura yang terdapat sejarah Pande dikawasan Ulun Danu 8) Rencana program revitalisasi sejumlah proyek yang sedang berjalan dikawasan yakni Renovasi Pura Teratai Bang dan Short Cut. “Saya ingat sekali, sejak kejadian Festival Babi Guling di Bedugul dan sosialisasi Piagam Tantular, saya amati Bedugul sudah mulai berubah. Masyarakat Hindu semakin beranim menunjukkan prestasi, Jagat Bedugul sudah dipralina alit dengan kejadian –  kejadian bencana baik di Kebun Raya atau Banjir besar beberapa kali. Juga masalah pengelolaan Pura Ulun Danu juga mencuat karena kehendak Ida Leluhur. Saya senang bisa menjadi bagian sejarah dan saksi bagaimana Bedugul berbenah dengan baik. Jangan pernah lupa dengan sistem leluhur Sabdo Pandito Ratu, bahwa setiap tindakan kita adalah doa. Semoga Bedugul kembali menemukan jati diri dan tiang sekali lagi mendukung penataan Bedugul secara sekala dan  niskala. Ini Satyagraha. “ungkap Gusti Wedakarna (humas )

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *