SATYAGRAHA – Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III Bersama Pemuda Desa Pemaron Buleleng Saat Sosialisasi Piagam Tantular

SENATOR RI INGATKAN 110 TAHUN KEBANGKITAN NASIONAL DI PEMARON BULELENG

Peraih suara tertinggi di Pemilu DPD RI Tahun 2014, Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III selalu dielu elukan khususnya oleh generasi milenial dipelosok manapun. Sosok yang akrab disapa Arya Wedakarna ( AWK )  yang dikenal sederhana ini, benar benar memiliki charisma yang tidak dimiliki oleh pemimpin Bali manapun, dan ini bisa dibuktikan saat AWK hadir ditengah ratusan anggota Karang Taruna Gesaron dan STT Pemaron di Buleleng. Saat hadir, tidak henti hentinya anak muda Pemaron menyapa Senator sembari meminta bersalaman dan berfoto bersama. Tidak saja hanya dikalangan anak muda, termasuk juga ibu ibu dan krama adat. Kehadiran AWK di Karang Taruna Gesaron untuk memberikan Jnana kepada anak muda Hindu, tentang  bagaimana mempertahankan palemahan desa dari rongrongan kaum anti Pancasila sekaligus mensosialisasikan Piagam Tantular tentang penolakan terkait ide Desa Syariah di Bali dinilai melanggar Perda Provinsi Bali No.2 Tahun 2012 tentang Kepariwisataan Budaya Bali yang dijiwai oleh agama Hindu. Semangat demi semangat terus digelorakan AWK khususnya kepada anak muda Hindu di Buleleng agar bangkit lan metangi  dalam menjaga Pancasila. “Generasi muda Hindu diseluruh Indonesia, jangan lupa kita pernah punya Pahlawan Nasional yang diakui oleh negara, yakni Mr. Gusti Pudja asal Puri Sukasada Buleleng yang berjuang bersama sama Bung Karno dan kaum PNI untuk menegakkan ideologi Pancasila. Beliau sebagai wakil Bali dan wakil umat Hindu pada panitia persiapan Indonesia Merdeka 1945, dengan tegas menolak Syariat  Islam yang tercantum dalam Piagam Jakarta untuk dijadikan dasar negara Indonesia. Saat itu, wilayah Indonesia Timur termasuk Bali yang mayoritas Hindu menolak bergabung NKRI jika dasar negara Indonesia bukan Pancasila dan syukurlah, berkat salah satu perjuangan Mr. Pudja, maka Indonesia saat ini menjadi negara republik, bukan negara agama. Dan tugas anak anak muda Buleleng berada terdepan membela Pancasila. Apalagi saat ini Indonesia tengah marak teror bom, ini artinya kita darurat ideologi.”ungkap Gusti Wedakarna yang juga Presiden The Sukarno Center ini. Lebih lanjut, terkait pembinaan Karang Taruna dan STT, pihak DPD RI Bali meminta kepada pemerintahan desa dan kelurahan untuk memberikan alokasi anggaran pada Karang Taruna dan STT, karena itu sesuai amanat UU. “Salah satu parameter sehatnya desa dan kelurahan, adalah aktifnya organisasi semesta yakni wadah pemuda baik STT maupun Karang Taruna. Anak muda jangan dibebankan pada kesibukan cari anggaran, tugas negara memenuhi hal tersebut. Sudah ada anggara APBN dan APBDN ke Desa dan pakaialah sebagian dana untuk pembangunan SDM. Saya minta agar STT dan Karang Taruna jangan dimanfaatkan menjelang Pilkades dan Pilkada, nanti malah blunder karena generasi milenial sudah pada pintar pintar. Berdayakan mereka dengan program rutin, rangkun dan ayomi. Disatu sisi, pihak STT dan Karang Taruna janga segan untuk berkomunikasi, berkoordinasi dan meminta anggaran kegiatan pada pemerintah desa. Ada dana milyaran disana dan itu hak generasi muda bangsa. Kalau ada Perbekel dan Lurah yang pelit kepada STT dan Karang Taruna, laporkan kesaya, nanti tiang akan tedun kedesa untuk menegur dan menjelaskan fungsi UU. Ada hampir 1500 desa adat, hampir 800 desa dinas yang perlu diingatkan. Tanpa pemuda tangguh, maka Bali akan hancur dan musnah. Jangan anggap sepele masalah kepemudaan ini. Saya ingatkan karena ini Satyagraha “ungkap Shri Arya Wedakarna mantan aktivis KMHDI Jakarta ini. ( humas )

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *