BULAN BUNG KARNO – Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III Bersama Penglingsir Puri Tampaksiring, Puri Payangan dan Puri Agung Satria Denpasar bersama Pemkab Gianyar dan Perbekel di Tampaksiring

PURI TAMPAKSIRING MENJADI TUAN RUMAH HARI LAHIR BUNG KARNO 

Yakinlah selama ini nama besar Bung Karno, foto dan lukisan Bung Karno serta yel yel Tri Sakti dan ajaran Marhaenisme hanya banyak dimanfaatkan hanya menjelang kampanye Pilkada dan Pemilu. Gambar gagah Bung Karno akan terpasang dibaliho baliho pada caleg, tapi apa daya, setelah orang politik duduk manis dikekuasaan, tidak ada satupun dari mereka mengumandangkan ajaran ajaran Bung Karno. Hal ini yang dikritik oleh tokoh Sukarnois Bali, Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III saat hadir diacara Sosialisasi MPR sekaligus Peringatan Hari Lahir Bung Karno 6 Juni 1901 yang diadakan di Puri Agung Tampaksiring yang menghadirkan pembicara dari Fakultas Hukum Universitas Mahendradatta yakni I Nyoman Suandika, SH, MH, dan Komang Edy Dharma Saputra, SH. MH. Dihadapan ratusan masyarakat khususnya kaum muda Bali dan Anggota Gerakan Pemuda Marhaenis ( GPM ) se – Bali, Dr Arya Wedakarna menyatakan bahwa jika para pemimpin di Bali ini setia dengan ajaran Bung Karno, maka hal yang pertama kali harus dilakukan adalah setia dengan ajaran dan prinsip prinsip Marhaenisme, bukan semata mata hanya menjual nama Sukarno. “Kami keluarga Puri Tegeh Kori, warih ( Swargi ) Shri Wedastera Suyasa sebagai pemimpin besar bali dizaman PNI dan Betara Hyang sebagai sahabat perjuangan Bung Karno ingin memberikan teladan bahwa menjadi Sukarnois ini harus selaras tata pikiran, perkataan dan perbuatan. Sejak tahun 2011 hingga kini kami mendirikan banyak Museum, Patung, Jalan, dan Lembaga Marhaenisme dan pusat pusat kajian, semua tujuannya satu yakni melestarikan ajaran Bung Karno dan ajaran Bung Karno ini paling mudah dilestarikan di Bali, karena orang Bali tidak berpikiran radikal. Maka dari itu, saya minta pejabat di Bali agar mulat sarira agar benar benar menjadikan ajaran Bung Karno sebagai pedoman dalam berjuang. Jangan sampai foto Bung Karno hanya sebagai pajangan di Baliho dan jargon Kampanye. Tapi buatlah program program yang pro terhadap kaum marhaen termasuk medirikan simbol Bung Karno. Saya berterimaksih pada Pemkab Tabanan, Pemkab Jembrana, Pemkab Bangli, Pemkab Buleleng, dan Pemkab Gianyar yang sudah membuat simbol Bung Karno baik berupa Jalan Ratu, Patung, Gedung Kesenian, Taman Kota dan Kawasan Heritage. Saya tunggu usaha dari Klungkung, Denpasar, Karangasem, dan Badung yang belum punya simbol Bung Karno. Mangde selaras antara visi dan praktek. Orang menilai dari sana. “ungkap Gusti Wedakarna yang juga anggota DPD RI Utusan Provinsi Bali. Terkait dengan perayaan Bulan Bung Karno, pihak The Sukarno Center terus menggandeng Puri Agung Tampaksiring sebagai tuan rumah acara hari lahir Bung Karno. “Saya ingin Puri Tampasiring masuk ke agenda nasional acara Bulan Bung Karno. Jika 1 Juni diadakan di Jakarta, 21 Juni diadakan di Blitar Jawa Timur, sekarang 6 Juni acara di Tampaksiring. Apalagi ada sejarah Bung Karno saat membangun Istana Kepresidenan RI di Tampaksiring bersama leluhur ring Puri Agung Tampaksiring. Saya hanya ingin luruskan sejarah, saya tidak ingin ada pihak yang memanipulasi sejarah. Ini sebagai bentuk dukungan tiang pada sejarah Puri Tampaksiring. “ungkap Gusti Wedakarna. Selanjutnya pihak The Sukarno Center juga akan berpartisipasi dalam acara haul Bung Karno pada 20-21 Juni 2018 di Blitar Jawa Timur, bersama rombongan Gerakan Pemuda Marhaen ( GPM ) dari seluruh Bali sebagai acara rutin. ( Humas )

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *